Senin, 24 Januari 2011

sejarah satra


Peradaban manusia tidak dapat lepas dari budaya dan seni. Hal ini dibuktikan atas peninggalan catatan manusia dalam bentuk tulisan. Pada awalnya, tulisan ini hanya dipergunakan dalam ritual keagamaan dan dokumentasi hal-hal penting.
Namun dalam perkembangan lebih lanjut, tulisan juga dijadikan sebuah seni yang memiliki teknik serta gayanya sendiri. Seperti kitab kesusastraan dan seni menulis indah yang disebut kaligrafi.
Di Indonesia budaya tulis-menulis baru dimulai sejak abad Ke IV masehi, ditemukan bukti pertama catatan yang dituliskan pada prasasti Yupa. Kemampuan manusia membuat catatan tertulis terus berkembang hingga masuknya agama Islam dengan aksara arab, serta aksara latin yang dibawa bangsa Eropa di nusantara. Perkembangan sastra Indonesia sendiri, baru dimulai sejak periode angkatan Balai Pustaka di tahun 1920. Momen ini dijadikan pula sebagai tonggak awal penulisan sastra modern Indonesia.

Priode-Priode Sastra Indonesia
Sejarah sastra di Indonesia dibagi menjadi beberapa periode sesuai dengan perubahan momentum sosial dan politik di Indonesia Meskipun banyak ahli yang mengatakan pembagian periodisasi sastra di Indonesia dimulai sejak masa Balai Pustaka di tahun 1920. Menuru pendapat Simomangkir Simanjuntak yang berpendapat sejarah sastra dimulai sejak Indonesia memasuki masa sejarah atau masa ketika tulisan baru dikenal.
1.      Masa Prakolonial
  1. Masa Hindu-Budha (abad IV sampai XIV masehi)
Periodisasi dimulai sejak ditemukannya catatan tertulis pada abad IV dalam prasasti Yupa. Ketika masa itu, tulisan mengadopsi bahasa Sansekerta dan huruf Palawa dari India. Bahasa dan tulisan tersebut, dibawa oleh kaum brahmana yang dimaksudkan untuk kegiatan ritual keagamaan. Namun tidak hanya sebatas itu, para pujangga nusantara mulai mengembangkan kemampuan mereka dalam kesusastraan. Tercatat di masa Kerajaan Kediri Jawa Timur, tergubahlah kitab epik Baratayudha versi bahasa Jawa yang dikarang oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa, dan diteruskan lagi di masa Kerajaan Majapahit dengan mahakarya kitab Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca serta kitab Sutasoma oleh Mpu Tantular
  1. Masa Kesultanan Islam (Abad XIV sampai XVII)
Pada awalnya, kisah-kisah yang beredar terkait dengan cerita para nabi, Rasulullah Muhammad SAW, sunan, wali, atau orang suci lainnya. Namun kesusastraan yang bernafaskan Islam ini terus berkembang hingga ke kehidupan yang berlatarbelakangkan nusantara seperti suluk Wujil karangan Sunan Bonang. Menceritakan wejangan-wejangan Sunan Bonang kepada Wujil, seorang cebol yang terpelajar mantan abdi dalem keraton Majapahit
2.      Masa kolonial Belanda.
  • Pujangga Melayu Lama (Sebelum abad XX)
Karya sastra didominasi oleh Syair, gurindam, pantun, dan hikayat. Isi cerita berkisah sejarah dan moral. Ciri utama masa ini adalah anonim atau tak ada nama pengarang. Berkembang di daerah sumatra seperti Riau, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Contoh yang terkenal adalah Hikayat Bayan Budiman dan syair Ken Tambunan
  • Pujangga Balai Pustaka (1920–1950)
Masa ini ditandai dengan berdirinya penerbit Balai Pustaka yang dimaksudkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk mengatur  karya beredar. Karya-karya yang dihasilkan kebanyakan berupa roman dan novel. Tersebutlah beberapa karya besar seperti Azab dan Sengsara karya Merari Siregar, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka, dan Siti Nurbaya karya Marah Roesli.
  • Pujangga Baru (1930 – 1942)
Pujangga baru merupakan bentuk reaksi dari penerbit Balai Pustaka yang dinilai terlalu ketat dalam melakukan penyensoran, terutama pada karya-karya yang mengandung unsur nasionalisme. Cerita didominasi oleh ide-ide pembangunan masyarakat menuju jiwa nasionalisme untuk merdeka. Karya-karya besar di masa ini antara lain Layar terkembang dari Sutan Takdir Alisjahbana dan Belenggu karya Armijn Pane.
3.      Masa pascakolonial.
  1. Angkatan 45
Esensi sastra masa ini diilhami oleh keadaan sosial politik revolusi mempertahankan kemerdekaan. Bentuk-bentuk karya yang banyak dihasilkan berupa puisi dan syair pembangkit semangat nasionalisme. Di antara dari para pujangga masa ini adalah Chairil Anwar dengan karyanya Kerikil Tajam.
  1. Angkatan 50-an
Ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Yasin, bentuk karya masa ini didominasi oleh cerpen dan kumpulan puisi. Cerita beraliran realis sosialis yang diilhami oleh isu komunisme. NH. Dini dengan Dua Dunia dan AA Nafis dengan kumpulan cerpen Rubuhnya Surau Kami adalah dua di antaranya
  1. Angkatan 66-70
Masa ini ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horizon . Banyak aliran yang berkembang seperti surrealis dan absurd. Pujangga yang terkenal di antaranya Sapardi Djoko Damono dengan kumpulan sajak Perahu Kertas
  1. Dasawarsa 80-an
Di masa ini, karya yang beredar berkisah sekitar romantisme dan cinta. Mulai muncul novel-novel populer dengan cerita ringan yang mudah dipahami. Sebut saja novel Karmila karya Marga T dan Yudhistira Ardinugraha dengan novel Arjuna Mencari Cinta.
  1. Masa Reformasi 1998
Reformasi struktur ketatanegaraan dalam aspek politik, sosial, dan ekonomi, telah memberikan angin segar bagi perkembangan sastra Indonesia. Muncul banyak penulis baru dengan novel, cerpen, puisi, dan esei yang beragam tema. Kebebasan mengemukakan pendapat memberikan daya kreativitas dalam isi cerita. Contoh yang jelas terdapat dalam novel Saman (membahas masalah seks )karya Ayu Utami. Ciri penulisan yang bebas dan terbuka, menjadi salah satu keunikan karya-karya di masa ini.
Sastrawan Angkatan Reformasi (2000), seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang Sastrawan Angkatan Reformasi. Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar Reformasi.
Di rubrik sastra Harian Republika, misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatar belakangi kelahiran karya-karya sastra puisi, cerpen, dan novel pada saat itu.
Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda dan Acep Zamzam Noer, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.

KARYA-KARYA SASTRA INDONESIA DARI MASA KE MASA

1.      Karya Sastra Pujangga Lama
o    Sejarah
·         Sejarah Melayu (Malay Annals)

·         Hikayat
o    Hikayat Aceh
o    Hikayat Amir Hamzah
o    Hikayat Andaken Penurat
o    Hikayat Djahidin
o    Hikayat Kadirun
o    Tsahibul Hikayat
o    Hikayat Masydulhak
o    Hikayat Pandawa Jaya
o    Hikayat Putri Djohar Manikam
o    Hikayat Sri Rama
o    Hikayat Tjendera Hasan

o    Syair
o    Kitab agama
o    Syarab al-'Asyiqin (Minuman Para Pecinta) oleh Hamzah Fansuri
o    Asrar al-'Arifin (Rahasia-rahasia para Gnostik) oleh Hamzah Fansuri
o    Nur ad-Daqa'iq (Cahaya pada kehalusan-kehalusan) oleh Syamsuddin Pasai
o    Bustan as-Salatin (Taman raja-raja) oleh Nuruddin ar-Raniri


  1. Karya Sastra Melayu Lama
o    Robinson Crusoe (terjemahan)
o    Lawan-lawan Merah
o    Mengelilingi Bumi dalam 80 hari (terjemahan)
o    Graaf de Monte Cristo (terjemahan)
o    Kapten Flamberger (terjemahan)
o    Rocambole (terjemahan)
o    Nyai Dasima oleh G. Francis (Indo)
o    Bunga Rampai oleh A.F van Dewall
o    Kisah Perjalanan Nakhoda Bontekoe
o    Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan
o    Kisah Pelayaran ke Makassar dan lain-lainnya
o    Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R Kommer (Indo)
o    Cerita Nyi Paina
o    Cerita Nyonya Kong Hong Nio
o    Nona Leonie
o    Warna Sari Melayu oleh Kat S.J
o    Cerita Si Conat oleh F.D.J. Pangemanan
o    Cerita Rossina
o    Nyai Isah oleh F. Wiggers
o    Drama Raden Bei Surioretno
o    Syair Java Bank Dirampok
o    Lo Fen Kui oleh Gouw Peng Liang
o    Cerita Oey See oleh Thio Tjin Boen
o    Tambahsia
o    Busono oleh R.M.Tirto Adhi Soerjo
o    Nyai Permana
o    Hikayat Siti Mariah oleh Hadji Moekti (indo)
o    dan masih ada sekitar 3000 judul karya sastra Melayu-Lama lainnya
 
  1. Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka
·        Merari Siregar
o    Azab dan Sengsara (1920)
·        Marah Roesli
o   Siti Nurbaya (1922)
o   La Hami (1924)
o   Anak dan Kemenakan (1956)
·        Muhammad Yamin
o    Tanah Air (1922)
o    Ken Arok dan Ken Dedes (1934)
·        Nur Sutan Iskandar
o   Salah Pilih (1928)
o   Karena Mentua (1932)
o   Hulubalang Raja (1934)

·        Tulis Sutan Sati
o   Tak Disangka (1923)
o   Tak Membalas Guna (1932)
·        Djamaluddin Adinegoro
o    Darah Muda (1927)
o    Asmara Jaya (1928)
·        Abas Soetan Pamoentjak
·         Pertemuan (1927)
·        Abdul Muis
o    Salah Asuhan (1928)
o    Pertemuan Djodoh (1933)
·        Aman Datuk Madjoindo
o   Menebus Dosa (1932)

  1. Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru
·        Sutan Takdir Alisjahbana
o    Dian Tak Kunjung Padam (1932)
o    Tebaran Mega - kumpulan sajak (1935)
o    Layar Terkembang (1936)
·        Hamka
o    Tuan Direktur (1950)
·        Armijn Pane
o    Belenggu (1940)
o    Jiwa Berjiwa
o    Gamelan Djiwa - kumpulan sajak (1960)
o    Djinak-djinak Merpati - sandiwara (1950)
o    Kisah Antara Manusia - kumpulan cerpen (1953)
·        Sanusi Pane
o    Pancaran Cinta (1926)
o    Puspa Mega (1927)
o    Madah Kelana (1931)
o    Kertajaya (1932)
·        Tengku Amir Hamzah
o   Nyanyi Sunyi (1937)
o   Begawat Gita (1933)
o   Setanggi Timur (1939)

·        Roestam Effendi
·        Sariamin Ismail
o    Kalau Tak Untung (1933)
o    Pengaruh Keadaan (1937)
·        Anak Agung Pandji Tisna
o    Sukreni Gadis Bali (1936)
·        J.E.Tatengkeng
o    Rindoe Dendam (1934)
·        Fatimah Hasan Delais
o    Kehilangan Mestika (1935)
·        Said Daeng Muntu
o    Pembalasan
o    Karim Halim
o    Palawija (1944)


  1. Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1945
·         Chairil Anwar
·         Asrul Sani, bersama Rivai Apin dan Chairil Anwar
·         Idrus
·         Achdiat K. Mihardja
·         Trisno Sumardjo
·         Utuy Tatang Sontani
·         Suman Hs.
o    Bukan Pasar Malam (1951)
o    Di Tepi Kali Bekasi (1951)
o    Keluarga Gerilya (1951)
o    Perburuan (1950)
o    Cerita dari Blora (1952)
o    Gadis Pantai (1965)
o   Nh. Dini
o    Dua Dunia (1950)
o    Hati jang Damai (1960)
o    Dalam Sadjak (1950)
o    Tak Ada Esok (1950)
o    Jalan Tak Ada Ujung (1952)
o    Tanah Gersang (1964)
o    Si Djamal (1964)
o    Putra Budiman (1951)
o    Pahlawan Minahasa (1957)
o    Tahun-tahun Kematian (1955)
o    Ditengah Keluarga (1956)
o    Cari Muatan (1959)
o    Pertemuan Kembali (1961)
o    Robohnya Surau Kami - 8 cerita pendek pilihan (1955)
o    Bianglala - kumpulan cerita pendek (1963)
o    Hujan Panas (1964)
o   Kemarau (1967)

·         Toto Sudarto Bachtiar
o    Etsa sajak-sajak (1956)
o    Suara - kumpulan sajak 1950-1955 (1958)
o    Priangan si Jelita (1956)
o    Empat Kumpulan Sajak (1961)
o    Ia Sudah Bertualang (1963)
o    Simphoni (1957)
o    Hujan Kepagian (1958)
o    Rasa SajangĂ© (1961)
o    Tiga Kota (1959)
o    Angin Laut (1958)
o    Dimedan Perang (1962)
o    Laki-laki dan Mesiu (1951)
o    Pulang (1958)
o    Daerah Tak Bertuan (1963)
o   Mendarat Kembali (1962)
o   Datang Malam (1963)

  1. Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1966
·        Taufik Ismail
o    Kenalkan
o    Saya Hewan
·        Sutardji Calzoum Bachri
o    O
o    Amuk
o    Kapak
·        Abdul Hadi WM
o    Meditasi (1976)
o    Tergantung Pada Angin (1977)
·        Sapardi Djoko Damono
o    Dukamu Abadi (1969)
o    Mata Pisau (1974)
·        Goenawan Mohamad
o    Parikesit (1969)
o    Interlude (1971)
o    Seks, Sastra, dan Kita (1980)
·        Umar Kayam
o    Para Priyayi
·        Danarto
o    Godlob
o    Berhala
·        Nasjah Djamin
·        Putu Wijaya
o    Telegram (1973)
o    Stasiun (1977)
o    Pabrik
o    Gres
o   Bom
·        Djamil Suherman
o    Perjalanan ke Akhirat (1962)
o    Manifestasi (1963)
·        Titis Basino
o    Lesbian (1976)
o    Bukan Rumahku (1976)
o    Pelabuhan Hati (1978)
o    Pelabuhan Hati (1978)
·        Leon Agusta
o    Monumen Safari (1966)
o    Catatan Putih (1975)
o    Hukla (1979)
·        Iwan Simatupang
o    Ziarah (1968)
o    Kering (1972)
o    Merahnya Merah (1968)
o    Keong (1975)
·        M.A Salmoen
o    Masa Bergolak (1968)
·        Parakitri Tahi Simbolon
o    Ibu (1969)
·        Chairul Harun
o    Warisan (1979)
·        Kuntowijoyo
o    Khotbah di Atas Bukit (1976)
·        M. Balfas
·        Mahbub Djunaidi
o    Dari Hari ke Hari (1975)
·        Wildan Yatim
o    Pergolakan (1974)
·        Harijadi S. Hartowardojo
o    Perjanjian dengan Maut (1976)
·        Ismail Marahimin
o    Dan Perang Pun Usai (1979)
·        Wisran Hadi
o    Jalan Lurus

  1. Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1980
·         Ahmadun Yosi Herfanda
o    Ladang Hijau (1980)
o    Sajak Penari (1990)
o    Sembahyang Rumputan (1997)
·         Y.B Mangunwijaya
o    Burung-burung Manyar (1981)
·         Darman Moenir
o    Bako (1983)
o    Dendang (1988)
·         Budi Darma
o    Olenka (1983)
o    Rafilus (1988)
·         Sindhunata
·         Arswendo Atmowiloto
o    Canting (1986)
·         Hilman Hariwijaya
o    Lupus - 28 novel (1986-2007)
o    Lupus Kecil - 13 novel (1989-2003)
o    Olga Sepatu Roda (1992)
o    Lupus ABG - 11 novel (1995-2005)
·         Dorothea Rosa Herliany
o    Nyanyian Gaduh (1987)
o    Matahari yang Mengalir (1990)
o    Kepompong Sunyi (1993)
o    Nikah Ilalang (1995)
·         Gustaf Rizal
o    Segi Empat Patah Sisi (1990)
o    Segi Tiga Lepas Kaki (1991)
o    Ben (1992)
·         Remy Sylado
o    Ca Bau Kan (1999)
o    Kerudung Merah Kirmizi (2002)

  1. Penulis dan Karya Sastra Angkatan Reformasi
·         Widji Thukul
o    Puisi Pelo
o    Darman

  1. Penulis dan Karya Sastra Angkatan 2000
·         Ayu Utami
o    Saman (1998)
o    Larung (2001)
·         Seno Gumira Ajidarma
·         Dewi Lestari
o    Supernova 2.1: Akar (2002)
o    Supernova 2.2: Petir (2004)
·         Habiburrahman El Shirazy
o    Ayat-Ayat Cinta (2004)
o    Diatas Sajadah Cinta (2004)
o    Dalam Mihrab Cinta (2007)
·         Andrea Hirata
o    Laskar Pelangi (2005)
o    Sang Pemimpi (2006)
o    Edensor (2007)
o    Maryamah Karpov (2008)

Cybersastra

Seiring perkembangan teknologi dengan ditandai dengan masuknya internet menjadi ruang gerak bagi komunitas sastra di Indonesia. Era sekarang ini banyak bermunculan sastrawan melalui media cyber ini dalam artian publikasi karya sastra tidak melaui buku-buka tapi melalui media masa semisal website, blog dan jejaring sosial.
Banyak karya sastra Indonesia yang tidak dipublikasi berupa buku namun termaktub di dunia maya (Internet), baik yang dikelola resmi oleh pemerintah, organisasi non-profit, maupun situs pribadi.
Sumber unduh: http://www.4shared.com/


[1] Disarikan dari berbagai sumber. Sebagai refrensi untuk membangkitlan intelektualitas seni dan budaya kader HMI Komisariat FPBS IKIP PGRI Semarang, Sabtu, 8 Mei 2010
[2] Aktivis HMI, Teater BETA IAIN Walisongo Semarang dan Komunitas Seni dan Budaa ilci institut Semarang
[3] Prasasti Kerajaan Kutai yang terletak di tepi Sungai Mahakam Pulau Kalimantan. Berisi tentang upacara persembahan yang dilakukan raja Mulawarman.

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar