Jumat, 04 Februari 2011

syurrrrrrrrrrr

ANDRE MEMPERKOSA CALON PENGANTIN 1
Namaku ANDRE. Aku bekerja di sebuah perusahaan elektronik di SURABAYA dengan jabatan setingkat supervisor dengan gaji yang kuanggap cukup lumayan dan perusahaan juga meminjamkan mobil perusahaan sebagai fasilitas dan aku mampu INDEKOS didaerah elit disebuah rumah yang terdiri dari 8 kamar dengan penghuni pria atau wanita yang rata2 sudah bekerja tapi aku tidak mengenal mereka dengan baik. Aku sebenarnya sudah termasuk senior karena umurku sudah 30 TAHUN dan masih membujang karena aku menyembunyikan rasa sebuah rahasia bahwa aku seorang gay yang lebih menyukai sesama lelaki dibanding kaum perempuan. Tapi hampir tidak ada yang tahu rahasiaku karena penampilan termasuk maskulin dengan sikap yang agak berangasan, lagipula sikapku tegas dan tubuhku tinggi atletis dengan badan kekar karena aku rajin latihan beladiri Tae Kwon Do. Salah seorang teman kosku yang sering ngobrol denganku adalah IRENE seorang gadis remaja keturunan Cina berumur 20-AN TAHUN yang baru lulus SMU dan baru mulai kuliah disebuah universitas dikotaku. Irene cantik tapi dia masih amat muda belia. Hanya karena diterima kuliah dikota ini terpaksa Irene tinggal berpisah dari orang tuanya dan hanya pulang ke MALANG seminggu sekali. Sewaktu menjalani Ospek, Irene mulai didekati oleh teman mahasiswa yang setingkat lebih senior bernama JONATHAN sampai akhirnya mereka berpacaran dan beberapa kali kulihat Jonathan mengendap masuk ke kamar kost Irene. Maklumlah sama sama masih berdarah remaja. IRENE pernah bercerita bahwa JONATHAN (biasa dipanggil IJONK) berumur 22 TAHUN, sama sama keturunan CINA dan berasal dari BANDUNG. Nah!, Ijonk inilah yang selalu membuat hatiku dag dig dug setiap kali datang menjemput Irene. Irene sungguh beruntung karena Ijonk adalah seorang pemuda cute yang amat tampan luar biasa. Walau terhitung masih remaja, tapi tubuh Ijonk menjulang tinggi dan berbadan atletis serta dada yang bidang. Ah!, sungguh beruntung Irene mendapatkan pacar yang begitu istimewa!. Tapi akibat pergaulan yang terlalu bebas, ternyata IRENE HAMIL!. Untunglah Ijonk mau bertanggung jawab dan akhirnya dengan terpaksa kedua orang tua mereka setuju untuk segera menikahkan mereka, mungkin dalam waktu 4-6 minggu mendatang walau umur keduanya sebenarnya masih teramat muda belia. Mendengar Ijonk akan segera MENGAWINI Irena ternyata tidak mengurangi minatku terhadap Ijonk malahan aku justru semakin terpesona oleh kesegaran tubuh atletis dan penampilan Ijonk yang amat sempurna sehingga aku sering merasa penasaran ingin mencicipi kesegaran tubuh perkasa anak muda itu. KARENA TAKUT MEREKA KEBURU KAWIN dan pindah tempat kost akhirnya aku buru buru mulai mencari siasat untuk mewujudkan keinginanku. Walau aku sendiri seorang pribumi tapi entah kenapa sejak dulu aku terobsesi dengan cowok Chinese yang menurut pandanganku adalah tipikal sempurna dalam banyak hal. Aku yakin Ijonk adalah seorang PEMUDA STRAIGHT, tapi bathinku kok menduga dia bisa jadi mangsa yang jinak!, karena seorang cowok yang masih muda belia begitu, masih gampang digiring dan diajari untuk mencoba dan menikmati seks sejenis. Aku dan Ijonk sudah beberapa kali ngobrol dan bahkan kalau Ijonk baru datang dari Bandung, sudah 2-3 kali Ijonk kusuruh tiduran istrirahat dikamarku sambil menunggu Irene pulang kerja sehingga hubunganku sudah agak akrab tapi sampai saat itu aku tidak penah melakukan hal hal yang mencurigakan. Walau aku LEBIH TUA 8 TAHUN, tapi Ijonk dan Irene biasa memanggilku sebagai Andre, tanpa embel2 “Mas” atau “Kak” (----- garis pembatas -----) Peristiwa ini terjadi pada tahun 2004 di bulan November, dimana kota SURABAYA sedang diguyur hujan. Merupakan pemandangan langka kalau Surabaya dicurahi hujan, karena lebih sering kota ini berada dalam kondisi kering. Kesempatan itu kumanfaatkan untuk bersantai dirumah karena pada hari sabtu itu aku libur sedangkan semua teman teman kost yang lain kebetulan tidak ada yang dirumah, semuanya sedang pergi keluar kota termasuk IRENE yang mendadak harus pulang berkunjung ke rumah orang tuanya di kota MALANG. Mendadak kudengar orang mengetuk pintu kamarku dan ternyata disitu IJONK berdiri dan bertanya kalau aku tahu kemana Irene pergi. Ahhh!, ini dia kesempatan datang tanpa diundang.... apalagi sejak kemarin, gairahku berdenyut denyut butuh pelampiasan. Walau tahu Irena akan menginap di Malang tapi aku BERPURA PURA bilang Ijonk bahwa Irene sedang ke toko buku dan menyuruh Ijonkmenunggu lalu dengan gaya yang sengaja dibuat wajar, aku membuka pintu dan menyuruh Ijonk masuk ke kamarku untuk menunggu kekasihnya. Sejenak Ijonk terlihat ragu ragu tapi akhirnya Ijonk melangkah masuk sambil menenteng tas punggung yang cukup besar. Ijonk terlihat kusut dan kecapaian lalu dia bercerita bahwa dia baru pulang dari BANDUNG naik Bus selama 18 JAM karena terjebak macet di beberapa kota. Mendengar itu aku menyuruh Ijonk tiduran di atas kasur dan tidak berapa lama kemudian kulihat Ijonk langsung TERTIDUR PULAS diatas tempat tidurku sehingga dengan mata liar dan lapar aku leluasa bisa memandang wajahnya yang tampandan sosok tubuhnya yang atletis. "Aku ikut tidur disitu ya.." kataku. Antara sadar dan tidak Ijonk mengguman "Hhhmmmm?" "Aku juga ngantuk, mau tiduran, ", kataku berpura-pura. Tapi Ijonk tidak menjawab karena dia sudah tidur pulas. Berbaring berdua dengan pemuda impianku di kamar kost di rumah yang sedang kosong membuat gairahku mulai berkobar kobar sehingga secara diam diam aku merangkulkan tanganku ke tubuh Ijonk yang kekar dan hangat. Ternyata Ijonk terus tidur dan malahan secara tidak sadar ikut merapatkan tubuhnya. Akhirnya timbul pikiran jahat di otakku. Saat itu sejuta rencana jahat sudah merasuki otakku. Di kala otakku sudah kesetanan, aku memeluk Ijonk dan mulai menggerayangi tubuhnya sambil membuka kancing kancing kemeja Ijonk. Tapi tiba tiba Ijonk terbangun... "ANDRE... APA-APAAN NIIHHHH..?" teriaknya gugup, karena terkejut. "Sssshhhh, diam, jangan macam-macam!" bisikku tegas sambil mempererat pelukanku.
Aku sudah kehilangan keseimbangan karena nafsu. "Ehh.. ada apa Dre...“" tanyanya lagi dengan sangat ketakutan, wajahnya pucat dan sesekali memandangiku, seolah minta dikasihani. Dengan tubuh yang tinggi atletis, Ijonk sebenarnya bisa saja berontak dan melawan, tapi aku segera mengeluarkan PISAU LIPATKU dan memperlihatkan didepan matanya. "Jangan macam-macam... atau kurobek wajah tampan kamu pake ini ... mengerti?" ancamku lagi. Entahlah, saat itu aku merasa bukan diriku lagi. Mungkin iblis sedang menari-nari di otakku. Ijonk hanya membisu, dengan tubuhgemetar menahan rasa takut, Ijonk telentang di kasur yang empuk. Dia kelihatan semakin ketakutan, ketika melihatku langsung membuka baju dan celanaku. Dengan hanya menggunakan celana dalam, kurebahkan tubuhku di sampingnya dengan posisi menyamping. Pisau itu kugesek-gesek di sekitar dadanya. "Agar proses ini tidak menyakitkan, kamu jangan bertingkah.. atau besok mayatmu sudah ditemukan di laut sana... paham?" "ANDRE.. KE.. KE... NAPAAA.. JADI BE.. GIII.. NII? APA.. SALAHKU?" dengan ketakutan Ijonk berusaha membuatku luluh. Segera, seluruh bajunya kusobek dengan pisauku yang tajam. Mulai dari bagian luar sampai dalamnya. Kini Ijonk telanjang bulat di antara serpihan pakaian yang kusayat-sayat. Dia menangis seperti anak perempuan, mata sipitnya bertambah sipit karena berusaha menahan ketakutan dan kemarahan. Aku maklum!, biar tubuh Ijonk tinggi kekar, tapi dia tetaplah seorang PEMUDA REMAJA YANG BARUBERUMUR 22 TAHUN!. Sejenak aku tertegun menyaksikan keindahan yang terpampang di hadapanku. Dada mulus yang bidang, tubuh langsing atletis, dan astaga!, Seumur hidup, baru kali ini aku melihat batang kejantanan laki laki yang ukurannya sedahsyat itu!. Walau masih agak lemas, tapi bentuknya sudah terlihat panjang dan gemuk, ditumbuhi bulu bulu disekitarnya. ketika kugeser pahanya ... ups... segera dia dirapatkan. Tapi kubuka lagi pahanya. "JANGAANN ANDRE... KUMOHON JANGAAANN..." pintanya memelas. Aku sudah tidak peduli. "Hei... Jonk... bisa diam nggak? Mau mati? Hah...?" ancamku sambil menampar pipinya. Wajahnya sampai terlempar karena aku menamparnya cukup keras. "Silakan menjerit... ini tidak ada siapa siapa dirumah dan ruangan kedap suara... ayo... menjeritlah...", ejekku kesenangan. SEGERA KUGENGGAM BATANG KEJANTANAN IJONK yang masih lemas dan kuremas remas sambil mengocok perlahan berirama. Sesekali Ijonk menatapku. Ada juga desah aneh di bibirnya. Aku terus mengocok dan meremas batang kejantanan itu, sambil tanganku satunya lagi yang menganggur mempermainkan puting di dada yang bidangnya. Ijonk hanya bisa mendesah dan ketakutan. Kudekatkan wajahku ke tengah selangkangan Ijonk. Dengan penuh perasaan, kuhirup bau kejantanan yang khas laki laki,. Bibirku mulai mengecup batangnya, kemudian lidahku kujulurkan lalu kujilati dengan perlahan, mengitari kepalanya dengan penuh perasaan. "SHHH... DRE... DREEEE.. JANGAAAANN... SSSHHH..." Ijonk sampai terduduk.
“AKU BUKAN HOMO DREEEE…” Tapi batang kontol Ijonk terasa membesar semakin keras.. Saat itu kesadaranku perlahan hadir. Perlakuanku kubuat selembut mungkin, namun tetap tegas agar Ijonk tidak bertindak ceroboh. Kontol Ijonk pada saat ngaceng, WOOOO... GEDENYA.. Kalau dilihat ukurannya boleh dibilang jumbo. Ngaceng kaku dan tegak, mengkilat-kilat dengan di kelilingi urat-uratnya dan jamurnya... sungguh membuat air liurku langsung menetes. Dan memang, aku yang nggak punya waktu banyak langsung menggenggam kontol itu, mulutku menganga sambil mendekat ke kontol dan tangan-tanganku mengarahkan kontol itu ke mulut. Aku langsung mengulum, mengisap-isap bak makan es lilin. Dan Ijonk kini merasakan kenikmatan yang dahsyat. Sebagai laki laki straight yang baru pertama kali diisep oleh sesama jenis Ijonk heran karena, baru pertama kali ini ada sesama lelaki yang cakep lagi bersih rapi mau menciumi bahkan mengulum jilati kontolnya. KENIKMATAN YANG BARU PERTAMA KALI DIA ALAMI ini membuat perasaannya langsung melayang-layang. Kegatalan yang amat sangat muncul dari wilayah selangkangannya yang kemudian membuat dia melakukan pompaan secara spontan. Kontolnya, khususnya pada ujungnya gatal sekali. Dengan menggesek-gesekan keluar masuk seperti pompa itu gatalnya serasa tergaruk dan alangkah nikmatnya. Aku sibuk mengulum dan menjilati. Batangnya, pangkalnya, bijih pelernya aku jilati hingga ludahku membuatnya kuyup. Sementara tanganku berkeliaran meraba pentil di dada Ijonk, atau berpindah ke bokong dengan berusaha menembusi pantatnya. Semua hal itu hanya menambah rangsangan birahi Ijonk semakin meledak. Kali ini lidahku menjilati semakin liar dan mulutku menghisap hisap sehingga tubuh Ijonk terasa bergetar tanpa sadar. Doronganpantatnya terasa sekali. "Lho... diperkosa kok malah enjoy... ayo.. tadi marah... mana...?" olokku. Ada sesuatu yang lucu. Dalam situasi itu sempat-sempatnya dia mendorong pinggulnya seolah menyerahkan lubangnya kedalam mulutku, dan dia menjambak rambutku sesekali. Dalam hati aku tertawa, "Dasar cowok... munafik." "Andre... jangannhh.. janganh..." balasnya malu-malu, berusaha menggeser kepalaku dari selangkangannya. Tapi setelah kepalaku digerakkan ke samping, malah ditariknya lagi hingga batang kejantanannya tidak terlepas dari mulutku. Aku pun paham, Ijonk inginmenunjukkan ketidaksudiannya, namun di lain pihak, dia sangat menginginkan sensasi itu. "Nih.. aku kasih bonus.. silakan menikmati..." kataku sambil melanjutkan isepanku.
Sementara tanganku yang kiri kuletakkan di bawah pantatnya. Pantat yang kukuh itu kuremas sesekali. "Oghhh... sshhh..."
Ijonk menggelinjang menahan nafsu yang mulai merasuki dirinya. Sesaat Ijonk lupa kalau sekarang dia dalam keadaan terjajah. "Sshhh... ooooooh..." Aku berhenti sesaat untuk melihat Ijonk berbaring tak berdaya di samping ranjang. Dia terkulai lemas. Pahanya dibiarkan terbuka. Lubang dubur yang tersembunyi diantara sepasang pahanya yang kukuh itu sudah mengundang batang kejantananku untuk beraksi. Namun aku berusaha menahan, agar pemerkosaan ini tidak terlalu menyakitkan. Kami berpandangan sejenak. Dia sudah tidak melakukan perlawanan apa-apa, pasrah. "Andre... aku tahu kamu sebenarnya orang yang baik, jangan sakiti aku yah... aku mau menemani kamu di sini, asal kamu tidak melukai aku..." pintanya sambil mengubah posisi telentangnya menjadi duduk melipat lututnya ke bawah pantat. Liang duburnya agak tersembunyi sekarang. "KAMU PERNAH DISODOMI COWOK NGGAK?" tanyaku ketus. "Nggak..! gak pernah..." “JADI MASIH PERAWAN DONK...!” „Iiiiiyaaaa..... ooh jangan Dre“ "Nah.. sayang sekali, kalau mulai besok kamu sudah menyandang gelar tidak perawan lagi..." "Ah..." Ijonk tercekat. "Dre... semua uang tadi boleh kamu ambil.. tapi mohon jangan yang kamu sebut barusan... Aku kan bulan depan kawin sama Irene. Andre... kumohon Dre..." "AHH... KAWIN KAN SAMA CEWEK!, KALO SAMA COWOK KAN GAK APA-APA...!. MASA CUMAN IRENE YANG MERASAKAN NIKMATNYA KEPERJAKAAN KAMU, MENDING AKU CURI DULU KEPERAWANAN KAMU SEKARANG..." kataku cepat sambil mendekatinya lagi. "Dre... jangan... kumohon..." "Diam!"
"Ingat... pisau ini sewaktu-waktu bisa mengeluarkan isi perutmu..." ancamku.
Ijonk terkejut sekali, karena menyangka aku sudah berbaik hati. Padahal aku juga tidak sungguh-sungguh marah padanya. Mungkin karena aku yang sudah terbiasa berteriak-teriak membuatnya ketakutan. "Sekarang giliranmu", kataku sambil mengarahkan kepalanya berhadapan dengan batang kemaluanku yang lumayan besar. Sejenak dipandanginya diriku dengan penuh kebingunan dan tatapan mata jijik. Dengan penuh rasa risih dan tangan gemetaran Ijonk memegang batang Kejantananku dan mengocoknya perlahan. Dikocoknya terus sampai perlahan, si batang andalanku naik. "Cuma itu?" tanyaku lagi.
“Ayo buka mulut dan isep tuh kontolku...!”
Dibuka mulutnya dengan ragu-ragu, Aku sebenarnya ingin tertawa melihat cowok normal yang sedang kupaksa ngisep batang kontol sesama lelaki. Tapi kutahan, karena gengsi. Dikulumnya batang Kontolku. Aku berdiri di atas ranjang. Dia berjongkok dan mulai menggerakkan kepalanya maju mundur. "Ahhh..." aku mengerang merasa nikmat sekali.
Kulihat matanya yang masih ketakutan. Biar saja, pikirku dalam hati. Toh ini demi keuntunganku. Dijilatinya kepala kejantananku. Tapi Ijonk tidak berani menatap wajahku. "Auhhgghh..." "Jangan dilepas..." seruku tertahan. Aku mengambil posisi duduk di antara belahan kedua kakinya. Ijonk masih telentang. Kugesek lagi kepala kejantananku yang sudahmengeras sempurna beradu pantatnya yang menegang. Dia setengah duduk dengan menahan tubuhnya pakai siku tangan, dan ikut menyaksikan beradunya batang kejantananku diantara selangkangan dia yang sudah terkuak membuka. Batang Kontolku itu kuarahkan ke liangduburnya. "Jangann... kumohon Dreeee... jangan.." serunya tertatih sambil mencengkeram batang kejantananku.
"Aku bersedia memuaskan nafsumu, dengan cara apa saja, asal aku jangan dimasuki kontolmu." "Oh ya? Kalau kamu ngisep aku sampai muncrat keluar mau nggak?" tantangku.
Tapi sebenarnya aku tidak lagi perduli karena Kontolku sudah minta dihantamkan melesak lubang Anusnya. "Yah.. terserah kamu Andre.." "Nggak..ahhh... aku cuma mau yang ini, ini lebih enak.." teriakku sambil menunjuk liang duburnya.
"Nih.. pegang.. masukin...." Dengan ragu dipegangnya batang kejantananku. "DRE... AKU BIKAN HOMOSEKS, APA TIDAK ADA CARA LAIN?" "Cara lain? Ada-ada saja kamu... Hei... kamu jangan bertingkah lagi ya... jangan sampai kesabaranku hilang“. “Kamu beri satu milyar pun sekarang aku nggak bakalan mau melepaskan punya kamu itu sekarang. Aku sudah nggak tahan... paham... paham? paham..?" bentakku dengan nada suara lebih meninggi. Pisau yang tadi kusembunyikan di bawah kasur kuacungkan dan kutekan kuat di dadanya. "Andree... sakitt.. jangann..." rintihnya ketika pisau tadi melukai dada putihnya. Aku terkesiap. Namun tak peduli. "Ayo.. masukin..." kali ini pisau kutekan lagi.
Darah segar menetes perlahan dari luka yang kuperbesar, walau tidak begitu parah. Dengan berat disertai ketakutan, dipegangnya Kontolku. Diarahkannya ke liang Anusnya.
"Sulit... sakitt.. Dre.. ampunn.. Andre..." Karena kasihan, aku berusaha membantu. Aku menunduk dan menjilati liang duburnya supaya basah dan licin. Dia melihatku menjilati pantatnya. Sesekali kami bertatapan. Entah apa artinya. Yang pasti aku merasa sudah memiliki wajah ganteng yang menggemaskan itu dan sepertinya Ijonk memang sudah takluk. Aku meludah. Kuoleskan liur yang menetes itu ke batang Kontolku, juga ke Anusnya. Aku memandanginya dengan perasaan sayang. Ijonk juga seolah mengerti arti tatapanku itu. Aku segera mengecup bibirnya. Dia terpaksa membuka bibirnya dan membalas. Kami berpagutan sesaat. Kurasakan batang Kontolku bersentuhan dengan perutnya. "Ah... Shhh" Dan.., "Oogghhh... aaahhh... Shh..." "SEKARANG WAKTUNYA JONK!." (BERSAMBUNG KE BAGIAN-2)

syurrrrrrrrrrr

SUPIR TRUK
Sering sekali aku berkhayal kontol-kontol supir truk yang terkenal suka "jajan" itu nancep di lobangku, terkadang kalau aku sedang berada di jalan dan melihat mereka suka kencing di pinggir jalan dengan kontol terlihat kemana-mana rasanya pengen aku samperin dan aku emut, sayangnya aku nggak punya keberanian itu. Aku sama sekali nggak nyangka bahwa semua keinginanku ini terwujud. Hari sabtu yang menyebalkan, seharusnya semalem aku bisa pesta pora ngocok kontolku sambil nonton VCD gay yang kubawa dengan fantasi-fantasi liarku saat menatap kontol-kontol bule yang gede-gede itu. Tapi dasar sial, keluarga kakak ayahku datang dan menginap di rumah, dan karena kamar di rumahku tidak terlalu banyak jadi terpaksa kakak sepupu tidur di kamarku, batal deh. Hari ini aku harus kembali ke kota tempatku bekerja karena besok aku malas kalau harus subuh-subuh berangkat dari rumah orang tuaku yang jaraknya sekitar 2 jam perjalanan ke kota. Sambil menunggu bis yang emang agak-agak susah aku memandangi kendaraan yang lewat. Sampai ada sebuah truk yang lewat, sebenarnya truk itu biasa saja karena dari tadi juga banyak yang lewat, tapi mereka menjepit celana jeans dan celana dalam di depan mobil, mungkin baru mereka cuci biar kering. Timbul ide dalam otak mesumku. Selama ini para supir truk terkenal suka ngeseks, dan aku yakin kalau ada dinatar mereka yang gay atau biseks. Karena tempatku menunggu hanya ada aku seorang, maka aku berdiri disisi jalan menunggu truk yang lewat. Beberapa sudah lewat tapi mereka tidak berhenti, sekedar tahu saja aku melambai untuk menumpang dengan meletakkan tangan kiriku di gundukan selangkangan sebagai kode. Sekitar 20 menitan tidak sukses, tiba-tiba truk yang barusan lewat berhenti dan kemudian mundur.
DEGGG ... antara takut dan senang aku menunggu apa yang akan terjadi. Seseorang membuka pintu penumpang, lalu muncul wajah yang nggak terlalu ganteng tapi dilihat sekilas sangat laki-laki sekali. Ia menanyakan tujuanku dan kemudian aku sebutkan, lalu dia mengajakku naik ke truknya karena kebetulan arahnya sama. Truk akhirnya jalan dan aku mulai sering curi pandang, ternyata supir truk ini cuma memakai celana boxer yang tipis dan kaus oblong warna hitam. Kulitnya agak gelap dan kulihat pahanya penuh bulu, seketika kontolku ngaceng melihat bulu-bulu itu karena aku sangat suka dengan bulu-bulu di paha dan jembut.
"namanya sapa mas?" tanya supir itu, dari logat bicaranya dia seperti orang batak.
"Yudi," jawabku. "mas sendiri?"
"Luhut,"
Kami terdiam sebentar karena dia konsentrasi ke jalan, kesempatan aku gunakan untuk melihat tonjolan di boxernya, sepertinya dia sedang ngaceng.
"Tadi ngapain berdiri sambil megang selangkangan?" tanyanya.
Wah mulai nih pikirku.
"Biasa, pagi-pagi gini kontol pada ngaceng, gatel pengen kocok," jawabku berani.
"Sama, nih kontol aku juga sudah ngaceng," ujarnya sambil memegang tonjolan di daerah kontolnya.
"biasanya kalo dah ngaceng gitu diapain mas?" tanyaku lagi.
"Kalo nggak dikocok, paling-paling mampir di warung nyari lobang," jawabnya sambil cengengesan.
"Kalo ngocok emang bisa sambil nyupir?"
"Yah dibisa-bisain lah,"
Kemudian tangannya mengelus-elus kontolnya dari luar celana, ia konsentrasi sebentar ke jalan, kemudian tangan kirinya masuk ke dalam boxer dan membuat gerakan keluar-masuk. "repot nanti mas, sini saya bantuin ngocok," kataku.
ia menatapku sambil kemudian tersenyum, "kok nggak bilang dari tadi,"
Kemudian tangannya keluar, lalu dengan yakin aku merunduk ke dekat selangkangannya. aku memasukkan tangan kananku ke dalam boxer dan baru saja masuk jemariku langsung bersentuhan dengan kepala kontolnya yang segera ku genggam dan ku elus-elus. Aku keluarkan tanganku lalu menarik boxernya sampai sedengkul dan sekarang kontolnya sudah terlihat jelas olehku. Kepala kontolnya gede dan batangnya berurat dengan panjang seperti milikku, dan jembutnya lebet banget. Aku menjadi gemes dan segera aku usap-usap serta kusibak rimbunan jembutnya dengan jemariku. Batang kontolnya berdenyut-denyut tanda dia terangsang hebat.
Aku menggenggam batang kontolnya dan aku mulai kocok, saat itu aku kaget ternyata dia belum disunat dan inilah kontol pertama yang belum sunat yang aku pegang.
Aku tarik kulupnya ke atas hingga menutupi kepala kontolnya, aku mendengar dia mengerang-erang. Kini posisiku tengkurap dan wajahku tepat di atas kontolnya. Aku masih terkagum-kagum dengan kulupnya, dan kulupnya yang masih menutupi palanya aku gigit pelan sampai kurasakan dia menggelinjang.
"Aduh .... enak banget. Suka kulup ya?"
"Iya, sedep."
Aku menyedot kulupnya agak kuat dan sesekali aku sesap-sesap. Kemudian kulit kulupnya aku turunkan sehingga kepala kontolnya muncul lagi. Aku angkat batang kontolnya ke atas hingga menyentuh perutnya sehingga bagian bawah batangnya kini menghadapku. Ini adalah bagian kesukaanku, aku mendekatkan wajahku ke batang kontolnya dan aku jilat bagian frenulumnya (bawah dekat lobang kencing) hingga ke lobang kencingnya, lalu ujung lidahku sedikit kumainkan di lobangnya sampai dia sedikit melompat dari tempat duduknya mungkin karena kaget dan enak. Aku turunkan lagi lidahku perlahan-lahan hingga kepangkal batang bagian bawah. Urat-urat kontolnya juga mempesona, berkali-kali aku rasakan urat-uratnya menyentuh lidah dan bibirku. Aku jilat lagi keatas hingga frenulumnya, kemudian ujung lidahku aku peletkan di pinggiran topi bajanya dan memutar beberapa kali hingga kemudian berakhir lagi di lobang kencingnya yang kembali aku mainkan dengan ujung lidahku. Aku melihat lendir bening keluar dari lobang kencingnya dan tanpa ragu aku jilat habis.
Lalu dari topi kontol bagian atas aku mulai menelusuri senti demi senti batang bagian atasnya hingga ke pangkal kontol yang tertutup oleh rimbunan jembut. Aku jilati jembutnya yang super lebet itu, ahhh sedep banget, buat yang suka jembut seperti aku ini adalah sensasi yang paling nikmat.
Aku benamkan hidungku di hamparan hitam jembutnya dan kugosokkan berkali-kali hidungku dan berkali-kali dia mengeluarkan erangan. Lalu aku merasa mobil berhenti.
"Kenapa mas?"
"Nggak apa-apa, susah nyupir kalo kontol diginiin," ujarnya.
Jadi aku kembali melanjutkan aksiku, kali ini malah semakin nikmat ada sensasi tambahan saat dia melihat aksiku. Aku sekarang sudah di bagian kepalanya dan aku jilat-jilat seluruh helm daging itu kemudian memasukkannya ke dalam bibirku dan kusedot dengan kuat-kuat hingga dia kelojotan di bangkunya sambil meracau kata-kata tak jelas. Mungkin lonte-lonte yang selama ini dia entot nggak pernah ngisep kontolnya. Aksi sedotku tetap aku teruskan dan kulihat matanya terpejam menahan enak.
Kami terhanyut oleh suasana itu sehingga sama sekali tidak memperhatikan sekeliling ketika tiba-tiba muncul seseorang di pintu jendela tempatku berada.
"Gila kau Hut!," suara itu tiba-tiba muncul.
Aku kontan kaget dan kurasa luhut juga seperti aku kagetnya. Aku menghentikan jilatanku dan menatap ke arah suara yang ternyata datang dari sebuah wajah yang terlihat keras dengan kumis tipis dan rambut yang keriting. Kutaksir ia berusia 26-an. "Kupikir mobil kau kenapa-napa, tak tahunya lagi asik kontolmu di sedot," ujarnya.
"Ah kau Ben bikin aku kaget saja. Kau tak tahu enak kali kontol diginikan, mau coba?"
Luhut kemudian memegang kepalaku dan didorong pelan ke selangkangannya tanda ia ingin aksi dilanjutkan. JAdi aku kembali melanjutkan aksiku dan mulai menyedot-nyedot kontol luhut.
Pintu mobil tempatku berada terbuka, lalu orang yang tadi naik dan dia memperhatikan apa yang kami lakukan. Aku sengaja membuat suara ribut dengan mulutku, berharap orang ini terangsang juga.
"Enak hut?"
"Enak Ben, kamu coba juga lah,"
"Hei, kamu mau nggak isep kontolku juga?" tanya orang itu. Aku melepaskan isapanku dan menatapnya.
"Mau banget, tapi tempatnya sempit,"
Orang itu terlihat berfikir, lalu ia berkata, "Hut, gimana kalo kita ke rumah Bonar aja, sepi paling-paling cuma ada Bonar,"
"Ya bereslah, mau nggak kau?" tanya luhut kepadaku
Aku mengangguk dan kembali mengisap kontol luhut. Orang tadi masih di tempat yang sama memperhatikanaksiku dan Luhut. Sementara tangan kananku sibuk memegang batang kontol Luhut, sekarang tangan kiriku bergerak ke belakang dan menuju selangkangan orang itu. Dia memakai celana jeans, tapi bisa kurasakan kontolnya sudah mengeras dan kontol itu aku remas-remas.
"Hut aku tak tahan juga nih, kita ke depan aja di dekat lembar (tempat reklamasi pantai yang rimbunan pepohonan) aku pengen ngerasain juga,"
"Agghhh, kau ini Ben, ya sudah kau turunlah,"
Orang itu turun dari mobil dan menutup pintu, tak lama kudengar suara mesin mobil dan mobil kami juga jalan. Aku tetap menghisap-hisap kontol luhut yang semakin banjir cairan bening. Tak lama mobil kembali berhenti
"Kita turun yuk?"
Kami turun dan saat itu bisa kulihat figur Luhut dengan jelas. Ia cukup tinggi sekitar 165cm dan agak gemuk, celananya sama sekali tidak dinaikkan dan kontolnya yang ngaceng masih teracung-acung di luar.
"Lama sekali si Beni ini," ujar Luhut. Nama supir truk itu rupanya Beni, dan sekarang dia turun dia hanya memakai celana dalam biru tua yang terlihat kendor dan membawa sarung.
"Cepatlah kau Ben, pejuhku kayaknya sudah mau nyemprot,"
"Sabar hut,"
Beni kemudian menggelar sarung di rerumputan dan aku mulai menelanjangi diriku. Dengan tinggi 175cman dan berat 68Kg, meski tidak terlalu berotot rasanya tubuhku cukup menggoda, apalagi aku berkulit putih mulus. Sekarang aku berbaring terlentang di sarung dan kutarik kontol Luhut yang kemudian berlutut lalu aku jilati lagi bagian kontol bawahnya. Kemudian Beni bergabung dan Beni ini tubuhnya proporsional sekali, badannya berotot, mungkin dia suka mengangkat barang, kulit gelapnya sangat seksi.
Dia nggak tampan, tapi aku sama sekali tidak perduli. Inilah enaknya kontol mereka yang suka di sebut pekerja kasar, mereka nggak penting tampang yang penting bisa puas, begitu juga aku, asal ada kontol, nggak perlu pemanasan dan romantisan segala. Asal birahi sudah bergolak bisa dapet rasa enak yang luar biasa. Saat menatap kontol Beni aku kaget, kontol itu tak lebih dari 14cm, tapi diameternya sangat besar. Aku tangkap kontol beni dengan tangan kananku dan kudekatkan dengan mulutku. Kurasa mereka laki-laki sejati, karena mereka sama sekali tidak perduli dengan tubuh telanjangku, yang penting buat mereka kontol terasa enak. Aku kemudian berbalik dan kusatukan kepala kontol mereka hingga bersentuhan, lalu secara bergantian aku jilati bagian bawahnya hingga kuisap-isap kuat, bahkan terkadang kedua kepala kontolitu kucoba hisap bersamaan dalam mulutku, tapi kontol Beni yang gemuk membuat masalah. Seperti Luhut kontol Beni juga tak disunat. Aku tarik kulupnya lalu aku longgarkan dan pelan-pelan aku masukkan kepala kontol Luhut ke dalam kulup Beni yang panjang dan berhasil. Mereka mengerang bersamaan, lalu kedua kontol yang sudah menyatu itu aku kocok-kocok dan kujilat dari kiri ke kanan dan kusesapi seperti aku makan jagung bakar. Mereka terus mengerang enak, dan saat aku tarik kontol luhut, cairan lendir bening menetes dari kedua kontol, entah punya siapa.
"Kau entot aku ya," pintaku kepada Beni.
"Dimana?" tanyanya bingung.
"Ya di lobang pantatku lah,"
"Nanti sakit,"
"Ah sudah Ben, kau embat sajalah, dia pasti sudah biasa,"kata Luhut yang kuiyakan dengan anggukan. Beni kemudian berdiri dan berjalan ke belakangku yang sudah dalam posisi menungging, kulihat dia meludahi tangannnya lalu ludah itu dipoletin ke kepala kontolnya dan dia menempelkan ujung kepala kontolnya tepat di lobangku.
Luhut memperhatikan apa yang Beni lakukan, sementara tangan kananku terus mengocok kontolnya.
Beni menekan kontolnya dan aku merasakan lobangku terkuak pelan-pelan. Agak susah juga karena kontol Beni memang sangat gemuk, tapi dia nggak menyerah meski sudah keringetan.
"Gila sempit kali lobang kau," ujarnya.
Kali ini dia menekan agak kuat dan aku berusaha serileks mungkin menghadapinya. Sedikit demi sedikit kepala kontolnya mulai masuk seiring rasa sakit yang juga mulai kurasakan. BLESS .... tiba-tiba kepala kontol itu berhasil masuk, dan aku mengerang keras karena rasanya cukup sakit. Kurasa Beni tidak pengalaman dengan laki-laki sehingga dia pikir lobangku sama saja dengan memek lonte yang pernah dientotnya. Dia terus membenamkan batang kontolnya dan aku mengerang-erang sampai akhirnya seluruh batang kontol dia amblas. Aku bernafas lega dan Beni mulai memompa lobangku, aku yang mulai terbiasa juga mulai mengimbangi gerakannya. Sambil tubuhku bergoyang-goyang akibat hantaman kontol Beni di belakang aku menjilat peler Luhut bagian bawah dan kuputar-putar lidahku di daerah itu. Enak sekali rasanya.
Sekarang kontol Luhut sudah tenggelam dalam mulutku yang lincah memainkan lidah di dalamnya sehingga batangnya tetap terjilat. Terkadang aku sedikit tersedak juga saat Luhut dengan cepat membenamkan seluruh batangnya di mulutku dan hidungku juga terasa geli karena seluruh jembutnya terasa menggelitik. Dia menekan agak lama baru dilepaskan lagi.
"Yang kuat mas, cepet entot yang kuat ...ARGGGGHHHHH ... ENAKKKK ... SHHHHH ... AHHHH," ujarku.
Beni semakin semangat, dia semakin mempercepat temponya dan terus memompa dengan liar sampai biji-biji pelernya terasa menampar-nampar paha belakangku. Seluruh batang kontol Beni tenggelam dan ia tidak menariknya, diputar-putar pinggulnya sehingga menimbulkan rasa ngilu yang sangat nikmat di lobangku, apalagi jembut-jembutnya juga terasa menggelitiki kulit pantatku. Lagi ia menarik batangnya dan berteriak-teriak keenakan...
"ARGGGGGHHHHHH.... SETAN KAU..... SETAN KAU ..... ENAKKKKK ....ARGGHHHHH...." racaunya.
Aku merasakan desah nafas yang semakin berat dari Luhut, dan aku khawatir dia keluar sebelum sempat mengentot lobangku, jadi keluarkan kontolnya dari mulutku.
"Jangan keluar dulu, entot dulu lobangku," kataku ke Luhut. Luhut mengangguk dan ia memperhatikan Beni yang masih memompaku. "Jangan keluar dilobang ya, keluarkan di mulut aja, mau ku hisap dan kultelen habis pejuh supir batak," ujarku.
"Lepas aja Ben, biar ku entot dia, kau keluarin saja pejuh kau dimulutnya," ujar Luhut.
Tiba-tiba kurasakan sangat kosong saat Beni menarik kontolnya dan aku berbaring telentang dengan kontolku mencuat ke atas tegang sekali seperti monas. Kurengkankan pahaku lebar-lebar, lalu aku minta Luhut dengan posisi yang sama untuk mengentotku. Kami sama-sama telentang dan karena lobangku sudah terbuka lebar oleh kontol Beni, dengan mudah kontol Luhut masuk. Tidak banyak gerakan yang bisa dilakukan dengan posisi ini. Kedua kaki Luhut berada disamping bahuku dan Luhut menghujam-hujamkan kontolnya dengan sesekali memutar pinggulnya, enak sekali.
Kini giliran Beni menghajar mulutku, dia kangkangi tubuhku lalu tepat di atas wahku dia sorongkan kontol gedenya ke mulutku dan segera aku hisap sementara aku tangan kiriku mengocok kontolku sendiri.Beni terus menerus memompa mulutku yang menjadi sedikit lelah karena terbuka begitu lebar karena kontol Beni begitu besar. Belum lagi Luhut semakin garang di bawah.
Aku tahan lagi .... Aku mengerang dan mengejan sejadi-jadinya ....
"ARGGGGHHHHHHH....." teriakku, lalu CROOOOTT...CROTTT...CROTTT...CROTTT.... berkali-kali pejuhku muncrat dan entah mendarat dimana, aku menggelepar seperti ikan kehabisan nafas, nikmatnya tiada tara.
Bersamaan dengan itu Beni membenamkan kontolnya dan aku sedikit tercekok saat tiba-tiba pejuhnya menyemprot langsung ke dalam tenggorokanku, seketika aku reflek dan mengeluarkan kontolnya yang masih menyemprotkan pejuh dan kemudian meleleh dari lobang kencingnya. Karena ejanganku tadi, otomatis membuat lobang pantatku mengkerut sehingga mencekik batang kontol Luhut sehingga dia juga mengerang keras, dan kurasakan semburan hangat di lobangku.
"Sini mas, kesinikan kontolnya, aku pengen ngerasain pejuhnya," ujarku kepada Luhut yang kemudian mencabut kontolnya dan berjalan ke arahku. Sementara Beni mengelap-elap sisa pejuhnya di bibirku dan sesekali masih mengalir pejuh dari lobangnya yang aku jilat habis. Kini giliran kontol Luhut menempel di bibirku, dan kembali lidahku bergerilya menyapu sampai habis pejuhnya yang belepotan di kepala kontolnya sendiri.
Kami semua terbaring bugil bertiga di sarung yang tidak muat untuk kami berbaring. Setelah mengelap sisa-sisa pejuh, kami berangkat lagi dan aku diantarkan ke tempat tujuanku.
Enaknya pejuh supir batak, nggak perlu ada romantisan, nggak perduli tampang, yang penting punya kontol, maennya enak, PUASSS! Gue tunggu kontol-kontol lo semua, gendut, kurus, jelek, ganteng yang penting kontol lo berisi pejuh untuk muncrat di dalem mulut gue.
AHHH, SEDEP! Ada lagi yang pejuhnya pengen gue sedot abis?

syurrrrrrrrrrr

LAUT KETANG
Sore hari senin saat pemilu presiden, aku bosan di rumah dan memutuskan untuk pergi ke laut yang tidak jauh dari rumah. Tempatnya sepi apalagi kalau sudah sore dan yang ada hanya mereka yang suka memancing. Sebenarnya ini juga alasanku pergi ke laut ketang. BIasanya selesai memancing, para pemancing itu suka mandi di laut mereka berbasah-basah dan setelah selesai mereka pergi ke balik bebatuan untuk mengganti pakaiannya yang basah. Dan aku senang sekali berada di bebatuan itu bisa mengintip mereka yang tanpa malu-malu telanjang mengganti pakaiannya. Nah di hari itu laut sedang surut dan ada dua orang yang aku nggak tau apakah mereka nelayan atau hanya orang biasa yang punya hobi mancing. Mereka berdua bertubuh tegap, satunya lumayan tampan dengan bodi kekar serta kulit tidak terlalu hitam, yang satunya lagi berkulit gelap. YAng aku incar yang berkulit tidak terlalu hitam ini, dia memakai celana training panjang putih dan berburu ikan. Setelah aku mendekat, wuih pemandangannya menyenangkan. Ternyata dia sama sekali tidak memakai kolor, karena saat dia berdiri, terlihat jelas kontolnya tercetak di celana, dan bayangan hitam jembutnya juga terlihat. Kontolku ngaceng seketika.
Lalu dengan sabar aku tunggu dia mengganti pakaian dan aku sudah menunggu disana pura-pura mengambil ikan-ikan kecil. Tempat biasa mereka ganti pakaian itu terdiri dari bebatuan yang biasa ada di laut dan tinggi-tinggi. Sekelilingnya semak belukar dan tempat itu cukup terlindung kalau anda memang tidak sengaja untuk melihatnya atau memang berada di dekat situ. Ternyata kesabaranku berbuah hasil, dia berjalan ke arah bebatuan tempat aku berada sambil membawa celana jeans birunya, aku lihat dia lirik kiri kanan. Dia memperhatikan aku sebentar, aku tahu itu, lalu dia menurunkan celana panjangnya dan aku melirik, ASTAGA! Itu kontol terbesar yang pernah aku lihat, bahkan dalam keadaan seperti itu, panjang kontolnya hampir menyamaiku kontolku kalau ngaceng, padahal aku pernah ukur kontolku kalau ngaceng sekitar 14cm. Aku berdiri dan berjalan ke arahnya sambil pura-pura memperhatikan sekitar. Lalu saat itu dia menatapku, dan aku juga menatapnya, lalu aku menurunkan pandanganku ke arah kontol yang kini terlihat sangat jelas. Kontolnya ternyata tidak berjembut lebat hanya ada sedikit saja itupun tidak terlalu panjang, tapi kepala kontolnya sangat besar sampai-sampai aku tak percaya apa yang aku lihat. Lalu aku tersadar kalau aku melakukan kesalahan dengan menatap seperti itu, lalu aku menatap dia lagi dan ternyata dia masih menatapku tanpa ekspresi. Kemudian dia melirik ke arah kontolnya dan kembali menatapku. Aku mencoba tersenyum dan ternyata dia juga tersenyum meski terlihat sangat kaku. "Maap mas, nggak sengaja. Soalnya baru sekali ini aku lihat ada kontol sebesar itu," ujarku dengan berani.
Aku melihat ekspresi wajahnya yang terkejut dengan perkataanku. LAlu dia menjawab,
"Nggak apa-apa, saya biasa mandi telanjang di kali,"
Aku semakin berani dan berjalan mendekatinya sambil sesekali berpura-pura melihat ikan di air.
"Kalau lemes aja segede gitu, gimana kalau ngaceng,"
"Ah bisa aja,"
"Bener kok," ujarku sambil kemudian duduk di batu dan aku melihat dia agak canggung namun dia masih telanjang bulat. "Kalau punya aku segede itu, aku pasti seneng banget,"
Dia hanya tersenyum mendengar perkataanku barusan.
"Pernah ngukur gak mas?" tanyaku lagi.
"Nggak pernah, yah memang gini adanya,"
"Mas, boleh nggak aku pegang kontol mas, aku pengen ngerasain sebesar apa kalau ngaceng,"
Dia terlihat kaget lagi dengan perkataanku dan sedikit menelan ludah dengan agak gugup dia berkata,
"Ngapaian megang kan sama aja,"
"Yah nggak sama lah mas, boleh ya," ujarku semakin berani dan semakin dekat dengannya.
Dia menengok kiri kanan beberapa kali lalu berkata, "Yah.. ya boleh lah, tapi kalau ada orang lepasin ya,"
"Beres," ujarku sambil tersenyum. Lalu aku dengan sedikit gugup memegang batang kontolnya. Hangat sekali terasa dan dalam hitungan detik kontol itu membesar di genggamanku sampai maksimal. GIla ... gede banget!! kepala kontolnya itu membuat aku tak tahan. Aku melirik ke arahnya, dan ternyata dia juga sedang memperhatikan aku sambil sesekali memperhatikan sekelilingnya.
Aku elus-elus kepala kontolnya, lalu batangnya mulai aku kocok-kocok. Semakin lama kocokanku semakin kencang dan sesekali aku memilin pelan batang kontolnya. Aku merasakan ada gerakan dia seperti sedikit maju mundur atau memompa tanganku dan juga seperti berputar. Sekarang sambil aku kocok batangnya, tanganku yang kanan mulai gerilya ke arah biji pelirnya. Biji pelernya sangat tidak sinkron karena berukuran biasa saja, sementara batangnya begitu panjang dan besar serta berurat. Seperti juga dipangkal kontolnya, biji peler dia bahkan sama sekali tidak berjembut. Aku pijat pelan biji pelernya dan dia mulai berdesah-desah pelan. Aku melihat dia memejamkan matanya, aku pikir sekarang atau tidak sama sekali. Dengan cepat aku menempelkan bibirku di kepala kontolnya. Dia segera bereaksi dan sangat kaget dengan yang aku lakukan, dia sedikit menarik dirinya. Tapi aku tidak mau melepasnya, aku pegang pantatnya lalu tarik kembali ke arahku. Sekarang batang kontolnya aku arahkan ke atas dan aku mulai menjilat bagian bawah batang kontolnya mulai dari bagian bawah hingga ke lobang kencingnya, memainkan ujung lidahku di kepala kontolnya yang semakin berwarna ungu, aku tahu dia sangat keenakan.
Lalu dengan beberapakali usaha aku berhasil memasukkan kepala kontolnya ke mulutku dan langsung aku sedot-sedot dengan kencang, dan aku bisa merasakan urat-urat disekeliling batang kontolnya semakin membesar dan dia juga semakin kuat mengocok mulutku. "Lepas mas, lepas, saya mau keluar," kata dia.
"Mmmgrrrppphh," ujarku tak jelas karena mulutku penuh dengan kontolnya sambil menggelengkan kepalaku tanda aku tak mau melepasnya, lalu aku pegang pantatnya dengan kedua tanganku, dan dia masih sedikit berontak.
Aku terus menggerilyakan lidahku dan seperti dia pasrah, lalu dia sedikit mengerang dan tak lama mulutku penuh dengan sperma yang sangat banyak di semprotkan dari lobang kontolnya. Banyak juga yang mengalir ke luar dan menetes. Aku terus menyimpan kontolnya di mulutku sampai akhirnya perlahan kontolnya mulai lemas dan aku lepaskan. Setelah batang kontolnya berada di luar, aku pegang sekali lagi lalu aku jilat-jilat kepalanya dan sisa-sisa sperma yang masih ada. Enak sekali.
Dia terduduk di bebatuan dan sedikit terengah-engah. Dia tersenyum malu menatapku, lalu memakai celana jeansnya.
"Namanya sapa mas?" tanyaku.
"Ahmad," jawabnya pendek.
"Kenalin aku Adi," ujarku lagi sambil mengulurkan tanganku.
Setelah beberapa lama terdiam, dia berkata,
"Mas Adi ini suka ya yang beginian,"
"Iya, aku suka banget sama kontol apalagi kalo gede kayak punya sampean,"
Dia tertawa pelan, lalu aku berkata, "Temen satunya nggak ganti baju juga,"
Dia lagi-lagi tersenyum. "Kayaknya enggak, dia cuman pake celana itu,"
"Kalo kamu pernah nggak mad yang beginian?"
"Ah nggak mas, paling-paling ngocok aja,"
"Mad, jangan panggil mas lagi ya, panggil aja Adi,"
"Iya deh. Emm aku pergi dulu ya di, nanti temanku nungguin,"
"Ya udah, tapi kalau kamu masih mau diisep lagi kapan-kapan, aku sering kok kesini. Itu mobilku, jadi kalo ada mobil itu pasti ada aku. Kalau mau ajak teman kamu itu juga nggak apa-apa,"
Dia hanya tertawa saja, lalu permisi dan pergi. Ah enak sekali ngisep kontol gede orang tak dikenal di laut ketang. *******************************

syurrrrrrrrrrr

Asmara di Puncak Gunung
Naik kelas 2 SMA, hubunganku dengan Raka (baca kisahku seri 05-07) mulai merenggang, meskipun kami masih sering ketemu dan kadang-kadang having sex juga, setidaknya sampai Raka pindah sekolah. Selain bergaul di sekolah, di rumah pun ada beberapa anak tetangga yang sebaya denganku dan menjadi temanku. Kami sering ketemu terutama di sore dan malam hari. Adalah Alwi, seorang anak tetangga yang akhirnya menjadi akrab denganku. Padahal sebenarnya aku berteman dengan adiknya, si Joni, yang sebaya denganku. Alwi sendiri baru saja tamat SMA dan tidak terus ke perguruan tinggi sebab orangtuanya kurang mampu. Mula-mulanya tidak terlalu dekat denganku, sebab jika aku main ke rumahnya, yang ku cari tentunya adalah si Joni, adikknya. Perawakan Alwi tinggi dan proporsional, berbeda dengan adiknya. Parasnya pun kelihatan jauh lebih keras ketimbang Joni yang tampak imut. Dari seringnya aku main ke rumah mereka, aku tahu bahwa Alwi pintar bermain gitar. Aku sendiri sebenarnya ingin sekali bermain gitar, tapi jariku selalu saja kesakitan jika menekan dawainya. Namun kalau alat musik piano, boleh dibilang aku sangat mahir. Wajar aja, sejak sebelum aku lahir, di rumah telah ada sebuah piano klasik, benda yang sangat disayangi ayahku. Aku belajar piano secara autodidak karena ayahku hampir tidak punya waktu untuk mengajariku, dan aku tidak pernah mau ikut les sebabrasanya terlalu teoritis. Setiap kali aku ke rumah Joni dan melihat si Alwi bermain gitar, aku jadi terkagum-kagum. Dia sanggup memainkan melody lagu dengan terampil dan artistik. Justru karena aku tidak terlalu pintar bermain gitar, maka aku minta Alwi mengajarkannya kepadaku. Itulah awalnya kami mulai berteman akrab. Lagi pula si Alwi ingin "tukar ilmu" denganku. Aku sering mengajaknya bermain piano di rumah, tentunya saat ayahku sedang keluar, sebab beliau tidak suka ada yang mengutak-atik piano antik itu, kecuali beliau dan aku. Terkadang aku dan Alwi juga suka berduet, aku main piano dan dia main gitar. Hal itu membuat aku makin tertarik padanya, apalagi wajahnya memang ganteng, dan menurutku posturnya sangat sexy. Anyway, yang paling utama membuatku tertarik ialah kepintarannya bermain gitar. Persahabatanku dengan Alwi makin lama semakin akrab, apalagi ternyata kami sama-sama suka hiking dan mendaki gunung. Justru adiknya, si Joni, tidak punya hobi seperti itu, sehingga akhirnya aku malah akrab dengan kakaknya. Kalau mendaki gunung bersama, Alwi selalu membawa gitarnya. Aku sih ingin juga membawa piano, tapi bagaimana mungkin? Nah, kalau lagi di puncak gunung, Alwi bermain gitar dan aku menyanyi. Salah satu lagu favorit kami ialah "Always Somewhere". Aku hafal liriknya sehingga tak perlumembawa song book segala. Suatu hari aku diajak Alwi mendaki gunung. Kami hanya pergi bertiga, aku, Alwi dan seorang temannya lagi yang bernama Edi. Dia bukan tetangga kami, tapi mantan teman sekelas Alwi di SMA. Ketika tengah mendaki, aku sempat tergelincir dan nyaris masuk jurang. Tasku jatuh ke jurang, tapi Alwi dan Edi bisa menyelamatkanku. Kami beristirahat sejenak, lalu terus mendaki sampai ke puncak. Matahari sudah hampir terbenam saat kami tiba di puncak. Angin dingin behembus cukup kencang, membuat kami merasa lapar. Alwi mengeluarkan bekal makan malam untuk kami bertiga. Malam makin larut, udara dingin mulai menusuk, tapi hembusan angin agak mereda. Tak banyak pendaki gunung lain malam itu, sehingga kami leluasa memilih tempat untuk membuat api unggun kecil. Selama beberapa jam kami bernyanyi bersama di dekat api unggun sambil menghangatkan tubuh. Si Edi yang duluan menyerah, ia segera membuka kantong tidurnya, dan seperti mengacuhkan berisiknya nyanyian kami, hanya dalam beberapa menit dia sudah tertidur. Kira-kira sejam kemudian aku dan Alwi juga memutuskan untuk tidur. Aku sempat bingung juga, sebab kantong tidurku turut jatuh ke jurang bersama tasku. Untunglah Alwi membawa tenda kecil. Memang dia kurang suka memakai kantung tidur. Aku membantu Alwi membuka dan memasang tendanya. Aku merasa tidak enakan juga, sebab tampaknya tenda itu terlalu kecil untuk kami berdua. Namun Alwi dapat ide bagus. Kami tiduran dengan kaki terjulur ke luar tenda. Selimutnya hanya satu, jadi terpaksa kami pakai berdua. Meskipun sudah beberapa kali kami mendaki bersama, tapi baru sekarang aku tidur setenda dengan Alwi. Aku jadi deg-degan, walau terbungkus jaket dan selimut, Alwi yang terbaring hanya beberapa cm dariku kelihatan sangat menggiurkan di terpa sinar bulan dan cahaya dari sisa-sisa api unggun. Aku gelisah, sulit terlelap, pandanganku tak putus-putusnya ke arah wajah yang tampan dan macho itu. Lamunanku tiba-tiba buyar ketika Alwi membuka matanya dan menyapa, "Kenapa Ver? Nggak bisa tidur ya? Mungkin kamu kedinginan. Kamu pake sendiri aja selimutnya supaya lebih hangat. Terlalu kecil untuk kita berdua." "Oh, nggak usah, aku nggak apa-apa kok. Begini aja udah cukup", jawabku. "Oke, kalau begitu kamu mendekat sedikit ke sini, supaya selimutnya muat", ajak Alwi. Walaupun aku merasa agak canggung, ku terima tawarannya. Ku geserkan tubuhku mendekatinya, tapi aku terkejut seperti kesetrum ketika Alwi kemudian merangkul tubuhku. Aku tahu Alwi tidak berpikiran macam-macam, sebab dia memang bukan gay. Maksudnya merangkulku ialah supaya aku merasa hangat. Alwi segera meneruskan tidurnya, tetapi aku tidak bisa. Wajahku terlalu dekat dengan wajahnya sehingga hanya dengan satu gerakan kecil saja bibir kami bisa saling bersentuhan. Nafasnya yang memburu namun segar menerpa wajahku, membuat aku menjadi terangsang. Aku jadi gelisah, tapi tidak berani bergerak sedikit pun. Pelukan Alwi bukan hanya memberi kehangatan terhadap tubuhku, tapi juga bathinku. Aku merasa seperti terlindungi. Malam semakin larut dan akhirnya aku terlelap juga sebab pendakian tadi dan kejadian aku nyaris masuk jurang sudah sangat memeras tenagaku. Menjelang subuh aku terbangun lagi, tubuhku menggigil diserang rasa dingin. Sepertinya tahu aku kedinginan, Alwi mempererat pelukannya. Tanganku terjepit di antara paha kami, tak sengaja menyentuh tonjolan di selangkangannya. Kepala kami yang sudah saling menempel satu sama lain, membuatku tak bisa menahan diri lagi. Sesaat kemudian, ku remas mesra tonjolan yang sudah sejak tadi merangsang tanganku, membuat pemiliknya terkejut. "Ver, geli ah...", ujar Alwi sambil membuka matanya. Ia pikir aku sedang becanda, jadi ia hanya tersenyum aja. "Tenang aja...", bisikku, sambil memasukkan tanganku ke balik celana training berkaret yg Alwi kenakan. Ku genggam batang kontol Alwi yang kayaknya sudah ngaceng, mungkin karena subuh. Besar juga! Alwi hanya terdiam, mungkin dia merasa heran sebab baru sekarang ada lelaki lain yang menggenggam penisnya seperti itu. Ku gosok-gosokkan tanganku dengan perlahan dan lembut, membuat Alwi mengerang kecil dan memejamkan matanya. Ku coba menarik tanganku dari selangkangannya, tapi Alwi buru-buru menahan dengan tangannya, seolah memberi isyarat bahwa aku boleh teruskan. Makanya ku serudukkan tanganku makin dalam, mencapai kantung biji zakarnya. Ku permainkan jari-jariku dengan lincah di sana, sehingga Alwi menggeliat keenakan. Rasanya ada yang basah, pasti precum-nya mulai keluar karena rangsangan yang ku berikan. Ku pijat lembut kontolnya dengan gerakan naik turun. Tak berapa lama kemudian, Alwi memberi kode agar aku mengeluarkan tanganku dulu dari celananya. Alwi memasukkan kakinya yang tadinya terjulur ke luar tenda, dan aku pun mengikutinya, sampai tenda itu benar-benar sesak oleh kami berdua. Aku ingin nyelonong ke bawah agar mulutku mencapai selangkangannya, tapi ruang yang ada terlalu sempit. Lantas aku duduk bersila di dekat tubuhnya. Badanku terpaksa ku jongkokkan demi menggapai kontolnya yang sudah seperti buahan ranum itu. Ketika bibirku menyentuh kepala kontolnya, lidahku langsung berputar-putar di sekitarnya, membuat tubuh Alwi bergetar. Dinginnya udara puncak gunung di subuh hari itu seolah tak terasakan oleh Alwi ketika aku memelorotkan celananya sampai ke batas lutut. Di depanku kini terhampar pemandangan yang indah, kontol seorang lelaki jantan lengkap dengan asesorisnya (jambut halus dan kantong biji zakar). Segera ku santap "sarapan" yang kepagian itu. Mulutku yang sudah terlatih oleh beberapa pengalaman sebelumnya mungkin terasa lebih nikmat daripada memek wanita. Aku sendiri kurang tahu persis kalau dia masih perjaka atau tidak, tapi aku yakin inilah pertama kali ada mulut lelaki yang menggerayangi kontolnya. "Ah, ah, ah, ah... terusin Ver... terusin...", rintihnya ketika gerakan memompa kontolnya dengan mulut ku percepat. Kini Alwi bahkan berusaha mengangkat-angkat pinggulnya. Gerakanku kian membuas, sampai akhirnya Alwi mendorong kepalaku hingga kontolnya benar-benar tertancap di pangkal lidahku, lalu... "Aaaa... aaaaa.... aaaa....", rintih Alwi tersendat-sendat seirama dengan semprotan air mani segar beberapa kali yang terasa hangat di rongga mulutku. Ku telan semua "air kelelakian" Alwi. Sampai ia menghempaskan pinggulnya ke tikar, barulah aku membebaskan burung perkasa yang barusan muntah itu dari perangkap mulutku. Ku lihat masih ada sedikit tetesan mani di ujung kontolnya dan ku bersihkan dengan tepian kaosnya yang sedikit nyembul di bawah jaketnya. Alwi tidak membuka matanya. Dia tertidur saking nikmat dan lelahnya. Namun aku berusaha menarik celananya yang melorot ke lutut itu lalu ku rapikan. Setelah itu aku segera keluar dari tenda untuk melihat keadaan di sekeliling. Aku kuatir jika Edi yang tidur di kantong hanya beberapa meter dari tenda terbangun sebab tadi kami cukup berisik. Ternyata tidak, Edi sepertinya tertidur lelap sekali. Di ufuk timur sudah kelihatan terang walau matahari belum terbit. Aku mengambil air dari termos dan ku kumur-kumur mulutku supaya sisa-sisa mani tidak menimbulkan bau yang menyengat. Itulah salah satu pengalaman indah yang pernah ku lalui dengan Alwi. Yang jelas, setelah peristiwa itu, aku sering berhubungan seks dengan Alwi setiap kali ada kesempatan, termasuk dalam kamarku sendiri. Di lain pihak, aku juga masih tetap bisa menikmati Raka, walaupun pertemuan kami sudah agak jarang sampai akhir semester III. Alwi hanya salah satu dari beberapa lelaki dalam hidupku di masa pubertas. Akan ku ungkapkan yang lainnya di kisah-kisah selanjutnya. SELESAI

tip


Bikin Hati Dia Meleleh dengan Kutipan Ini

Jum'at, 4 Februari 2011 - 19:53 wib

Lastri Marselina - Okezone

Detail Berita
Saatnya bikin hati dia meleleh. (Foto: Corbis)
FEBRUARI sering diartikan sebagai bulan penuh cinta. Saat hari Valentine tiba, ungkapkan perasaan cinta Anda dengan menuliskan kutipan-kutipan indah ini.

Berikut kutipan cinta para pakar yang akan melelehkan hati dia, seperti dilansir Idiva.

David Schwimmer, Aktor

“Cinta sejati tidak dapat ditemukan, karena memang tidak pernah ada, atau tidak dapat disembunyikan karena memang nyata.”

Dr. Suess, Penulis

“Ketika jatuh cinta, Anda tidak dapat tertidur karena kenyataan lebih indah dari mimpi.”

Robert Fulghum, Penulis

“Ketika membandingkan keanehan pasangan dengan keanehan kita, maka kita telah menggabungkannya menjadi keanehan yang memuaskan, dan itu disebut cinta –cinta sejati.”

Arturo Toscanini, Musisi

“Saya mencium kekasih pertama dan menghisap cerutu pertama saya di hari yang sama. Saya tidak pernah lagi menghisap cerutu sejak hari itu.”

Roy Croft, Penyair

“Saya tidak mencintai kamu karena dirimu, tapi saya mencintai diri saya saat bersama kamu.”

Nicholas Sparks, Penulis

"Kita merasakan cinta, mengesampingkan perbedaan, dan begitu hubungan ini berjalan, sesuatu yang langka dan indah telah tercipta. Untuk saya, cinta seperti itu hanya terjadi satu kali, dan itu adalah saat setiap menit kita menghabiskan waktu bersama yang tidak akan pernah saya lupakan.”

Alfred Lord Tennyson, Penyair

“Jika saya dapat menghadirkan bunga setiap kali memikirkanmu..maka saya dapat berjalan di antara bunga selamanya.”

Osho, Guru Spiritual

“Bahasa untuk mereka yang tidak saling mencintai. Untuk sepasang kekasih, kesunyian sudah cukup ketimbang berbicara. Saat mereka tidak berkata apapun, itulah waktu mereka berbicara.”

Victor Hugo, Novelis

“Dicintai merupakan hal terpenting! Tapi yang terpenting adalah mencintai!”

Chetan Bhagat, Penulis

“Ketika seorang wanita menghampiri hidupmu, maka semua hal akan terorganisasi dengan sendirinya

sexxx


4 Tipe Ciuman Disukai Pria

Jum'at, 4 Februari 2011 - 16:23 wib

Lastri Marselina - Okezone

Detail Berita
(Foto: gettyimages)
CIUMAN merupakan satu dari banyak cara untuk mengungkapkan perasaan cinta. Tak heran bila hampir semua orang menyukai aktivitas berciuman.

Sebuah ciuman dapat terkesan lembut, nakal, dan agresif. Namun, tipe ciuman seperti apa yang disukai pria?

Simak bahasan berikut, seperti dilansir Yourtango.

Ciuman melumat bibir

Ciuman jenis ini biasanya dilakukan saat foreplay dan merupakan tindakan saling memagut bibir bawah dan bibir atas pasangan. Mengapa pria menyukainya?

“Mari kita jujur, ciuman melumat, dan menghisap bibir merupakan ciuman terbaik. Tipe ciuman yang bisa menggiring lebih banyak aksi dan petualangan. Reaksi yang pasangan berikan juga lebih menggariahkan.”
- Jody (29), produser radio

Ciuman saat bercinta

Bayangkan, ciuman, dan bercinta secara bersamaan. Mengapa pria menyukainya?

“Ciuman tipe ini sangat menakjubkan dan hangat, menyatukan tindakan romantis dan hot sekaligus.”
- Scott (30), bartender

Kecupan bibir

Layaknya sebuah kecupan ringan di pipi, bibir, dan bagian lainnya. Mengapa pria menyukainya?

“Saya sangat menyukai saat istri mengecup bibir saya setiap hari. Setiap kami saling mengecup, saya dapat mencium aroma shampo di rambut dan wangi losion di tubuhnya. Kecupan yang membuat saya mengingatnya sepanjang hari.”
- Andrew (31), paramedis

Ciuman lidah

Ciuman ini merupakan cara klasik dari French kiss–membenamkan lidah Anda ke dalam mulut pasangan. Mengapa pria menyukainya?

“Sebuah French kiss sempurna, sama intimnya dengan aktivitas bercinta. Mata terpejam, saling memagut, tubuh merapat, ada permainan lidah dan tangan yang saling meraba. Semuanya merupakan kenikmatan tersendiri. Ciuman lidah merupakan artikulasi hasrat yang tak tergantikan.”
- Tom (31), komedian

sexxx


Seks Membara dengan Kamasutra

Sabtu, 5 Februari 2011 - 10:43 wib

Dwi Indah Nurcahyani - Okezone

Detail Berita
Seks membara dengan Kamasutra (Foto: Times of India)
LUPAKAN posisi misionaris yang membosankan. Cobalah kelima posisi seks ala Kamasutra sebagai bumbu yang akan membuat aksi ranjang semakin membara.

Apakah Anda sudah mengetahui posisi seks yang terbaik. Jika masih bingung menentukannya, contek saja gaya Kamasutra yang mengetengahkan berbagai variasi posisi baru.

Bagi Anda yang ingin mencobanya, berikut lima posisi teratas yang layak dicoba dan telah terbukti dinikmati para pencinta seks di seluruh dunia selama bertahun-tahun, seperti dilansir Idiva.

Posisi 1 : Side by Side


"Keuntungan posisi ini adalah, Anda dapat melihat reaksi dan tindakan pasangan Anda secara keseluruhan karena  posisi Anda yang berhadapan langsung dengannya. Bagi banyak orang, posisi ini sangat bermanfaat untuk merangsang gairah mereka," kata Dr Rinky Jethani, seksolog asal India.

Memilih posisi terbaik akan memungkinkan pria melakukan penetrasi dengan maksimal.

Posisi 2 : The Scissor


Pada posisi ini pria berlutut di depan pasangannya yang sedang berbaring. Jangan khawatir, Anda dapat melakukannya dengan tenang karena pria akan memegang penuh kendali kakinya saat hubungan intim berlangsung.

"Hal ini memungkinkan penetrasi lebih dalam yang akan memberikan kepuasan lebih. Jika melakukannya pada permukaan yang datar, posisi seperti ini mungkin sedikit menyakitkan. Karenanya Anda perlu mengganjar punggung bawah atau bagian bokong dengan bantal," kata Dr Jethani.

Posisi 3 : The Clip


Pada posisi ini, pria berada tepat di punggung Anda dengan posisi kaki terentang sementara Anda duduk mengangkang di atasnya. Anda memiliki peran lebih untuk mengeksplorasi permainan. Tangan pasangan bisa bebas bermain-main di tubuh saya. Tentu ini memberikan kepuasan maksimal bagi Anda sementara Anda memegang kendali jalannya permainan.

Posisi 4 : Doggy Style

Dr Jethani mengatakan wanita menikmati posisi terbaik ini, walau sebenarnya lebih banyak pria yang menikmatinya. Pada posisi ini, wanita mengambil posisi menungging sementara pria memeluknya dari belakang. Ini adalah cara terbaik untuk merangsang klitoris seorang wanita.

Posisi 5 : Stand by Me


Di sini, wanita mengambil posisi bersandar di dinding. Dengan cara seperti ini pria dapat leluasa mengontrol gerakannya. Misha mengatakan ini adalah bagian dari permainan seks yang mengagumkan. Bagi sebagian wanita posisi ini dirasa rentan, tapi tak jarang dari mereka yang menikmati posisi in